Graha Polinema 4th Floor, Jl. Soekarno Hatta No.9, Malang City, East Java, Indonesia

image

 
Perubahan iklim dan kesehatan tubuh manusia memiliki kaitan yang sangat erat, karena perubahan lingkungan berdampak langsung pada kesejahteraan manusia. Perubahan iklim seperti peningkatan suhu, cuaca ekstrem, polusi udara, serta gangguan pada sistem pangan dan air berkontribusi terhadap krisis kesehatan tubuh manusia di seluruh dunia. Hal ini dapat memperburuk kesenjangan yang sudah ada, dan menyulitkan masyarakat yang tertinggal untuk mendapatkan layanan kesehatan serta sumber daya penting lainnya. 

Perubahan iklim tidak selalu mengancam kesehatan fisik, namun juga berdampak pada kesehatan mental, meningkatkan stress, kecemasan, serta trauma.  Akibat dari perubahan iklim ini memiliki beberapa dampak yang signifikan terhadap kesehatan, yaitu; 

1.      Cuaca Ekstrem 

Badai, banjir, serta tanah longsor yang diakibatkan oleh perubahan iklim telah menyebabkan lebih dari dua juta kematian sejak 1970 hingga 2021, terutama di negara berpenghasilan rendah. Peristiwa ini, mengganggu layanan medis, meningkatkan risiko kesehatan fisik serta mental, dan rusaknya fasilitas kesehatan. 

2.      Suhu Panas Ekstrem 

Perubahan iklim memicu gelombang panas yang berlebih. Pada tahun 2023 di Eropa, diperkirakan hampir 50.000 orang meregang nyawa akibat gelombang panas ekstrem. Jika hal ini terus berlanjut, sekiitar 2 miliar orang akan terpapar panas ekstrem padaa tahun 2100 mendatang, dengan Asia Selatan dan Asia Tenggara menjadi wilayah yang paling mudah dan rentan terhadap suhu basah yang mematikan. Selain itu, kebakaran hutan juga meningkat dua kali lipat dalam 20 terakhir. 

3.      Penyakit Menular 

Nyamuk penyebar penyakit seperti malaria, demam berdarah, dan lain-lain menyebar ke daerah yang sebelumnya belum mereka tempati, karena banjir ekstrem yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Selain itu, ekosistem yang berubah akibat deforestasi, urbanisasi, dan kenaikan suhu global, kontak antara manusia dengan hewan menjadi semakin dekat, meningkatkan risiko pandemi yang disebabkan oleh penyakit zoonosis, seperti Covid-19. 

4.      Gizi Buruk 

Dampak perubahan iklim yang secara langsung terhadap kesehatan diperburuk oleh dampak tidak langsung seperti hilangnya pasokan angan akibat kekeringan, banjir, dan perubahan musim. Hal tersebut memperburuk masalah gizi. Sekitar 98 juta orang mengalami darurat pangan akibat perubahan iklim dari sedang hingga parah pada tahun 2020, dibangingkan dengan rata-rata periode 1981-2010. 

5.      Polusi Udara 

Pembakaran bahan bakar fosil tidak hanya memicu perubahan iklim, namun juga mencemari udara. 99% populasi dunia menghirup udara tidak sehat, yang mana dapat meningkatkan risiko kanker, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan. WHO mencatat sekitar 6,7 juta kematian setiap tahun akibat polusi udara, dengan 90% terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. 

6.      Dampak terhadap Kesehatan Mental 

Perubahan iklim dapat memicu stres, trauma, dan gangguan mental akibat bencana alam, atau dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental akibat kelangkaan pangan dan air, konflik, serta migrasi. ‘Kecemasan iklim’ semakin meningkat, dan menimbulkan kesadaran akan ancaman yang menimbulkan dampak psikologis, terutama di kalangan anak muda yang menghadapi masa depan yang tidak stabil dan tidak pasti. 

 

Dari penjelasan di atas, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak dari perubahan iklim. 

  • Menggunakan sumber energi terbarukan.

Mengurangi ketergantungan pada baha bakar fosil dengan beralih ke energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, hidro, dan biomassa dapat menekan emisi gas rumah kaca serta polusi udara. Energi terbarukan juga lebih berkelanjutan, mengurangi dampak perubahan iklim yang berdampak negatif pada kesehatan manusia dan lingkungan.
 
  • Menggabungkan informasi cuaca dan iklim dengan sistem pemantauan kesehatan.

Integrasi data cuaca dan iklim dengan sistem kesehatan memungkinkan deteksi dini dan respons cepat terhadap ancaman kesehatan yang berkaitan dengan perubahan iklim, seperti gelombang panas, penyebaran penyakit menular, serta dampak bencana alam.
 
  • Melakukan pertanian yang sustainable.

Praktik pertanian yang ramah lingkugan, seperti penggunaan pupuk organik, rotasi tanaman, irigasi hemat air, dan pengurangan deforestasi, membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan ketahanan pangan. Selain itu, pertanian berkelanjutan mengurangi emisi gas rumah kaca serta melindungi tanah dari degradasi dan erosi.
 
  • Melakukan kegiatan reboisasi.

Menanam kembali hutan yang telah ditebang atau rusak berperan penting dalam menyerap karbon dioksida, meningkatkan kualitas udara, dan mengurangi risiko bencana seperti banjir dan tanah longsor. Reboisasi juga menjaga keanekaragaman hayati dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi manusia dan ekosistem secara keseluruhan.